Proposal Gencatan Senjata Trump dan Realita Suram di Gaza: Harapan Tipis di Tengah Pembantaian

Eramuslim.com - Diskusi soal gencatan senjata di Gaza kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Israel telah menyetujui proposal untuk gencatan senjata 60 hari. Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan kebrutalan Israel terus berlanjut, dengan 138 warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir.
Hamas disebut telah memberikan tanggapan positif dengan sejumlah amandemen. Namun, PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut tuntutan Hamas tidak dapat diterima, meski tetap mengirim delegasi ke Doha, Qatar.
Isi Proposal Hamas:
-
Akhiri "Gaza Humanitarian Foundation (GHF)" – sebuah badan distribusi bantuan yang dianggap mempolitisasi bantuan dan memperburuk kelaparan. Lebih dari 743 warga Palestina tewas saat mengantre bantuan dari GHF.
-
Penarikan militer Israel ke posisi sebelum pelanggaran gencatan senjata Maret 2024.
-
Jaminan internasional, terutama dari AS, agar Israel tidak kembali melanggar kesepakatan atau menyerang Gaza setelah gencatan senjata.
-
Pertukaran tahanan – Hamas bersedia menyerahkan 10 sandera hidup dan 18 jenazah warga Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina secara bertahap.
-
Distribusi bantuan oleh PBB dan Palang Merah.
-
Penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.
Netanyahu bersikeras tidak akan menghentikan perang sampai semua sandera dibebaskan dan Hamas "dihancurkan", meski banyak analis menilai target tersebut tidak realistis dan lebih berbau kepentingan politik pribadi. Netanyahu sendiri tengah menghadapi persidangan korupsi dan tekanan politik dalam negeri pasca-serangan 7 Oktober 2023.
Sementara itu, Israel terus menyerang Gaza dan melakukan penghancuran rumah di Tepi Barat, membunuh lebih dari 1.000 orang sejak Oktober 2023. Kekerasan oleh pemukim ilegal dan militer Israel terhadap warga Palestina juga terus meningkat.
Meski Trump ingin mewujudkan gencatan senjata, banyak analis menyebut peluang kesepakatan sangat kecil.
Menurut Adnan Hayajneh, profesor hubungan internasional di Qatar University, "Israel tidak tertarik dengan gencatan senjata. Yang mereka inginkan adalah tanah tanpa penduduk Palestina."
Gencatan senjata tampak semakin jauh dari kenyataan. Meski ada diplomasi yang berjalan, niat politik Israel dan Netanyahu tampaknya lebih tertuju pada kelanjutan perang dan penghancuran Gaza daripada menghentikan kekerasan.
Sumber: Al Jazeera