eramuslim

Ketika 'Pro-Palestina' Dijadikan Senjata Framing Media

U.S. Attorney General Pam Bondi and Israeli Ambassador to the U.S. Yechiel Leiter speak to the law enforcement officials as they visit the site where, according to the U.S. Homeland Security Secretary, two Israeli embassy staff were shot dead near the Capital Jewish Museum in Washington, D.C., U.S. May 22, 2025. REUTERS/Jonathan Ernst

Eramuslim.com - Istilah pro-Palestina kini sering digunakan media sebagai jalan pintas yang menyederhanakan realitas dan bahkan menyamakan aksi solidaritas damai dengan kekerasan. Contohnya, CNN melaporkan serangkaian insiden di Melbourne, termasuk upaya pembakaran sinagoga dan pembakaran mobil, lalu menyebut bisnis yang terdampak pernah “ditarget protes pro-Palestina”. Padahal, pelaku belum jelas dan motifnya belum terbukti.

Ini bukan kasus tunggal. Media juga menyebut penembakan di luar museum Yahudi di Washington DC dan serangan di Colorado sebagai aksi “pro-Palestina” hanya karena pelaku meneriakkan “Free Palestine”. Dengan kata lain, istilah ini dijadikan label cepat untuk mengaitkan kekerasan dengan dukungan terhadap Palestina—meski tanpa konteks jelas.

Dalam jurnalisme, ketepatan seharusnya lebih penting daripada kecepatan atau kepraktisan. Namun istilah “pro-Palestina” hari ini menjadi alat retoris untuk mengaburkan fakta dan menyamakan pembelaan hak asasi manusia dengan ekstremisme. Istilah ini menyederhanakan konflik yang sangat timpang antara rakyat Palestina yang terjajah dengan kekuatan militer Israel yang luar biasa kuat.

Mengkritik genosida, menyerukan diakhirinya blokade, menolak kematian 18.000 anak Gaza bukanlah sikap “pro-Palestina” semata—itu adalah sikap pro-kemanusiaan. Menyuarakan dukungan bagi hak hidup, martabat, dan kebebasan Palestina seharusnya disebut sebagaimana adanya, bukan dibingkai dengan label yang penuh stigma.

Menyebut pelaku penembakan sebagai “penyerang pro-Palestina” hanya menguatkan narasi bahwa solidaritas Palestina = potensi kekerasan. Ini membahayakan kebebasan berekspresi dan memperkuat sensor, termasuk di kampus dan lembaga pendidikan.

Penulis menyerukan agar media dan masyarakat lebih jujur dan tepat dalam menyampaikan realitas. Alih-alih mengatakan seseorang “pro-Palestina”, lebih baik kita katakan mereka membela hak asasi manusia, menentang penjajahan, dan menolak pembunuhan massal. Menyamakan semua itu dengan kekerasan adalah bentuk pengaburan moral yang harus dihentikan.

Istilah pro-Palestina kini telah kehilangan makna sebenarnya. Ia digunakan untuk menstigmatisasi pembelaan terhadap hak-hak rakyat Palestina dan menyamakan solidaritas damai dengan ekstremisme. Yang kita butuhkan sekarang bukan label kabur, tetapi kejujuran, kejelasan, dan keberanian menyebut kebenaran apa adanya.

Sumber: Al Jazeera