Dokumen Rahasia Pembunuhan Martin Luther King Jr. Akhirnya Dibuka, Keluarga Kecewa dan Curiga Konspirasi

Eramuslim.com - Setelah hampir enam dekade, pemerintah Amerika Serikat akhirnya merilis lebih dari 230 ribu halaman dokumenterkait pembunuhan tokoh hak sipil Martin Luther King Jr. pada April 1968. Rilis besar-besaran ini diumumkan pada Senin, 21 Juli 2025, oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) sebagai bagian dari mandat Presiden Donald Trump — yang sebelumnya juga memerintahkan pembukaan arsip pembunuhan Presiden John F. Kennedy dan Senator Robert F. Kennedy.
Menurut ODNI, ini adalah pertama kalinya dokumen-dokumen tersebut diunggah secara lengkap dan daring, dengan sensor seminimal mungkin. Selama ini, sebagian dokumen hanya dapat diakses secara terbatas melalui permintaan Freedom of Information Act. Arsip ini telah tersimpan dan tersegel di fasilitas pemerintah sejak dikumpulkan oleh FBI pada 1977.
Apa Isi Dokumen?
Dokumen yang kini bisa diakses publik memuat memo internal FBI, catatan penyelidikan, informasi soal tersangka James Earl Ray, serta laporan CIA mengenai pelariannya ke luar negeri. Ray sendiri dihukum penjara 99 tahun atas pembunuhan King, namun ia mencabut pengakuan bersalahnya sebelum meninggal di penjara pada 1998. Beberapa dokumen bahkan membahas pengakuan dari mantan teman sel Ray yang mengklaim sebagai pelaku sesungguhnya.
Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard mengatakan bahwa publik “telah menunggu hampir 60 tahun untuk mengetahui sejauh mana pemerintah menyelidiki kasus ini.” Ia juga menyebut keluarga King diberi akses dua minggu sebelum dokumen dirilis. Namun, klaim ini dibantah oleh keluarga King.
Keluarga King: "Kami Belum Siap, Ini Masih Luka Menganga"
Bernice King (62) dan Martin Luther King III (67), dua anak mendiang King, menyayangkan keputusan pemerintah. Mereka menyatakan bahwa keluarga tidak diberi waktu yang cukup untuk meninjau dokumen secara utuh. Bagi mereka, ini bukan sekadar sejarah, tetapi luka pribadi yang belum pulih sejak 1968.
Mereka juga mengecam kampanye pengawasan dan disinformasi yang dijalankan FBI di bawah J. Edgar Hoover pada era 1960-an — yang bertujuan untuk merusak reputasi King dan menghancurkan Gerakan Hak Sipil. Dokumen yang kini dirilis, menurut mereka, bisa saja menjadi alat untuk menyebarkan narasi lama yang merusak perjuangan ayah mereka.
“Siapa pun yang mempromosikan isi dokumen tanpa kritik justru memperkuat kampanye jahat terhadap gerakan keadilan,” tegas keluarga dalam pernyataan lewat The King Center for Nonviolent Social Change.
Konspirasi atau Pelaku Tunggal?
Satu hal yang tetap menjadi kontroversi adalah siapa sebenarnya otak di balik pembunuhan ini. Meski secara resmi pemerintah menyatakan James Earl Ray bertindak sendiri, keluarga King menyebut ada konspirasi yang melibatkan lembaga negara. Keyakinan ini diperkuat oleh putusan pengadilan perdata Tennessee tahun 1999 yang menyebut seorang pria bernama Loyd Jowers dan beberapa pihak lain, termasuk institusi pemerintah, terlibat dalam pembunuhan.
Di sisi lain, penyelidikan Departemen Kehakiman pada 1977 dan 2000 menolak dugaan itu dan tetap menyatakan Ray bertindak sendirian. Sementara Komite DPR AS untuk Pembunuhan menyatakan ada kemungkinan konspirasi, namun tanpa bukti langsung keterlibatan pemerintah.
Sumber: tempo.co